“Jangan Memilih-Milih Teman!”

Itu yang biasanya dijadikan pesan orang-orang tua (older people, not parents) mengenai teman-teman kita. Disampaikan dengan nada dan diksi yang mungkin berbeda-beda, tapi maksudnya jelas sama: Jangan Memilih-Milih Teman. Pemikiran ini belakangan menggelitik saya untuk membuat tulisan ini. Karena setiap orang memiliki pandangan yang berbeda mengenai “jangan pilih-pilih” ini.

Salah seorang teman saya pernah menulis di suatu jejaring sosial, kalau tidak memilih teman kita tidak akan tahu yang mana yang baik atau tidak. Sedangkan kalau teman bergaul kita mengarah kepada hal-hal yang tidak baik tentu kita bisa kena imbasnya.

Nah, saya ingin mengungkapkan pendapat saya mengenai hal ini.

Ya, memang benar pendapat dari si teman itu. Karena tentunya kita tidak mau pergaulan kita mengubah kita menjadi orang yang lebih buruk. Untuk masalah ini, memilih teman jadi penting.

Yang jadi masalah adalah, apakah cara pemilihan teman kita sesuai dengan kebutuhan kita akan teman yang baik atau tidak baik? Atau kita hanya memilih berdasarkan selera “ah orang ini menyenangkan dan kelihatannya baik”? Tidak semua orang cukup dewasa untuk memilih temannya sendiri. Tidak semua orang, juga, cukup dewasa untuk menjadi teman yang baik. Di sini esensi dari “jangan pilih-pilih” itu tadi jadi penting. Karena seperti pepatah jaman dulu, yang kamu inginkan itu belum tentu yang kamu butuhkan. Siapa sangka orang yang dari luar kelihatannya baik-baik saja memiliki kepribadian yang bermasalah? Siapa sangka orang yang kelihatannya bisa dipengaruhi untuk berbuat hal baik malah pandai mempengaruhi untuk melakukan hal yang tidak baik?

Me, personally, haven’t really been able to choose my own friends. Awalnya mungkin terasa menyenangkan berteman dengan orang itu, lalu kemudian dia ternyata jauh dari yang selama ini ditunjukkannya. Kebiasaan jelek saya adalah memasang nilai tinggi sebagai penilaian awal setiap orang. Hal ini membuat pekerjaan menjadi mudah, karena kita tidak perlu berprasangka buruk secara berlebihan tanpa bukti yang jelas, tapi jadi repot untuk urusan pertemanan yang lebih dari urusan pekerjaan. Pada saat sudah terlibat lebih jauh secara emosional, ternyata si teman jauh, jauh  lebih buruk, dari asumsi awal terhadap orang itu. Hal seperti inilah sepertinya, yang dimaksud orang-orang tua dengan “jangan pilih-pilih”.

Mungkin, nasihat di atas harus diganti dengan, “Pilihlah temanmu dengan kepala dan hatimu, jangan hanya dengan perasaanmu yang mudah berubah”. 😉

P.S.: Gambar binatang lucu-lucu bisa ngintip ke http://funnyanimalpictures.net yang di post ini dari situ.

P.P.S: Kalau cari “teman” di google, yang keluar paling atas adalah http://www.temantapimesra.com/ -__-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s