To Follow or Not To Follow, That is the Question

Di tengah menjamurnya social media sekarang ini, nggak bisa dipungkiri ada fenomena yang terjadi di kalangan remaja labil anak muda. Fenomena ini banyak terjadi di twitter, dan saya baru tadi pagi menyaksikan di timeline  twitter tentang fenomena ini. Sesuatu yang disebut “follback” dan “promote”. Follback, singkatan dari follow back, adalah saat seseorang meminta kepada orang yang difollownya untuk memfollownya balik. Promote adalah meminta follower untuk mempromosikan akun twitter kita kepada follower mereka. Untuk yang belum familiar dengan twitter, follower adalah sebutan bagi orang yang “berlangganan” tweet, atau sebut saja status update, dari kita.

Saya gatal sekali ingin menulis tentang ini. Personally, I’m not the kind of person who tweet to get followers and, what, be famous? :)) I tweet my thought and sometimes my conversation with people. So I don’t give a damn about this whole followers thing. Tapi agak nggak nyaman rasanya saat saya diminta memfollow, atau istilah gampangnya, berlangganan status update, dari orang yang tidak terlalu saya kenal. Apalagi, diminta memfollow seseorang yang tweetnya tidak terlalu menarik untuk disimak, atau istilahnya, spamming.

Here’s the thing, guys, followers are earned, you tweet well, you get followers in return. Follow on twitter is nothing like add as friend on facebook. Tidak memfollow bukan berarti tidak berteman. Hanya saja mungkin tweet kita memang kurang menarik untuk disimak. Atau kita jarang sekali mengepost tweet. Saya sendiri tidak terlalu suka untuk memfollow seseorang yang jarang mengepost tweet, buat apa? Saya toh nggak akan dapat banyak informasi dari situ. Dan soal promote, well, same advice, tweetlah informasi berguna atau hal-hal yang memang menarik. And I tell you, mengupdate bahwa “lagi makan bakso nih” kemudian 5 menit kemudian menulis “aduh baksonya pedes” adalah bukan tweet yang menarik. I did this, but well, saya nggak minta dipromote. 😛

Demam ini rasanya nggak hanya menjamur di twitter. Saya sendiri, setiap saat mengecek stat blog ini, siapa tahu hari ini tiba-tiba banyak viewer. Tapi yah, hal itu nggak akan terjadi kalau saya tidak menulis sesuatu yang berguna di blog ini, kan? Tulisan terakhir saya dapat banyak view karena informasinya menarik bagi orang-orang, meskipun saya cuma menulis ulang apa yang tercantum di situs rujukan saya. But at least, they thought I did a good job, so they read my post. 😛

Well, twitter out there, remaja labil mostly, here’s my advice: Pray to your God, you’ll get your answer, moaning on twitter, you’ll lose followers. Social media isn’t real social life. Kehidupan sosial yang bagus bukan dilihat dari banyaknya follower di twitter kok, tapi dari berapa banyak “actual friends” kita. DON’T stop tweeting, but, please, less spamming, would you? 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s