“Peer pressure”

Pernah nggak kita memberi tepuk tangan untuk seorang teman yang bisa mengerjakan sesuatu di depan kelas? Pernah nggak kita nyorakin teman karena dia bisa menjawab pertanyaan yang kita bahkan nggak ngerti maksudnya? Pernah nggak memuji teman yang dapat nilai ujian paling bagus di kelas sampai dia ngerasa nggak enak? Pernah nggak kita memalingkan kepala ke teman paling pintar di kelas pada saat nggak ada orang di kelas yang bisa menjawab pertanyaan yang diajukan — dan langsung koor “waaah” waktu si teman paling pintar sekelas itu bisa menjawab?

Saya sih pernah. Teman-teman sekelas saya sejauh ini juga sering begitu.

Pernah nggak kebayang bahwa orang yang kita puji-puji setengah mati itu jadi minder? Pernah nggak kebayang bahwa dia sebenarnya jadi malas menjawab pertanyaan karena nggak ingin disorakin lagi? Pernah nggak kita berpikir, “Wah, kalo dia bisa kenapa gue enggak”?

Mungkin pernah. Tapi hanya selintas terpikir lalu sudah. Terus kenapa?

Ini dia masalahnya. Minggu lalu, saya kuliah RPL seperti biasa. Lalu bu dosen, yang tampaknya bosan karena tidak ada yang mau mengajukan diri untuk menjawab, menasihati kami. Mungkin kita nggak sadar, mungkin maksud kita becanda, mungkin kita memang ingin mengapresiasi. Tapi coba lihat lagi. Apakah teman kita nyaman dibecandain dengan cara itu? Apakah teman kita senang diapresiasi dengan cara seperti itu. Belum tentu lho.

Coba tanya pada diri sendiri, apakah niat kita memang mengapresiasi? Menurut asumsi saya, ehem, sorakan dan tepukan tangan itu muncul sebagai bentuk rasa tidak aman. Secara umum, manusia itu punya jiwa kompetitif. Asumsi saya, karena nggak bisa mengalahkan orang tersebut secara fair, maka lalu menggunakan cara itu untuk menjatuhkan mental lawannya.

Asumsi saya yang lain adalah, sebagai orang timur, kita terbiasa untuk menghargai dan menghormati orang. Mungkin sudah jadi kebiasaan kita, bahkan sebelum kita sadar bahwa kita sudah terbiasa, untuk menghargai pendapat orang dengan cara seperti itu. Tanpa kita tahu bahwa sebenarnya yang kita lakukan itu menjatuhkan mental orang lain.

Harus diakui, saya, meskipun saya bukan orang paling pintar sekelas, merasa nggak nyaman dengan hal itu. Saat ada pertanyaan yang saya tahu pasti jawabannya, saya lebih memilih diam atau menjawab kepada diri sendiri. Saya malas mengacungkan tangan untuk menjawab karena malas mendapat sorakan, dan mungkin dipuji-puji berlebihan setelahnya.

Kalau menurut ibu dosen, budaya (iya, budaya, bingung kan?) seperti itu cuma ada di Indonesia. Karena beliau pernah kuliah di luar negeri. Saya sih belum pernah. Tapi kalo nonton film Harry Potter pun, nggak pernah ada koor “waaah” dari Harry cs kalau Hermione berhasil menjawab pertanyaan yang sulit. Padahal semua orang tahu kalau Hermione itu memang rajin dan pintarnya luar biasa. Harry dan Ron juga selalu belajar bareng Hermione demi bisa lebih mengerti materi suatu pelajaran. Beda dengan di sini. Yang pintar kita puji-puji, tapi jarang sekali kita tanyain suatu materi yang kita nggak ngerti.

Jadi ayolah teman-teman, bersikap lebih dewasa. Mungkin Irvan Jahja itu pintar, tapi itu karena dia mau banyak belajar, banyak mencari tahu. Kalau kata orang “Guru terbaik adalah pengalaman”, maka sangat wajar dia jadi sangat pintar. Karena pengalamannya sangat banyak.

Saya akan menutup post yang panjang ini dengan sebuah kutipan,

Apa sih, kan kerjaan kita ngoding, tugas juga banyakan ngoding. Kenapa kalo ada yang bilang, “Di kuliah ini kita ngoding” di depan gitu semua heboh? Padahal kan udah biasa. Coba pemain bola, kalo ada yang bilang “hari ini kita latihan main bola” nggak ada yang heboh kan? Karena kan memang udah biasa.” – Timotius Triputra Safei, pada saat kuliah IF2032, saat asisten akan melakukan live coding lalu seisi kelas heboh.

Cheers! 😀

p.s. Maaf buat kedua orang yang namanya saya cantumkan di atas tanpa izin sebelumnya. Hehehe.

Advertisements

7 thoughts on ““Peer pressure”

  1. Like this lah.

    Banyak orang yang melakukan sesuatu karena udah menjadi kebiasaan. Sama seperti ini. Ini udah jadi kebiasaan. Dan kebiasaan itu nilai kebenarannya tidak jelas. Kalau ngebaca ini, seharusnya berpikir kalau nyorakin itu salah, tapi ya sudah, karena sudah menjadi kebiasaan, yang ga salah. Dan tetep aja bakal dilakuin.

    “Kalau orang lain bisa, kenapa kita tidak bisa?” – quote yang selalu diucapkan orang, tapi selalu dilupakan.

  2. Budaya Din, budaya. Susah juga jadi orang Indonesia yang menjunjung tinggi budaya. Hahaha.

    Tapi orang emang suka males, budaya yang gampang dilaksanakan ya dilaksanakan, budaya yang sulit dilaksanakan ditinggal. Ckck.

  3. like this dan setuju banget
    kalo ada pertanyaan kesini-sini bukannya jawab, malah ngobrolin jawabannya sama orang sebelah terus nunggu orang lain untuk jawab sampe lama banget n baru diomongin ke seisi kelas

  4. Hmm. Tapi bukan berarti kita nggak boleh memberi apresiasi terhadap mereka yang layak menerimanya, kan?

    Good post anyway. Makasih banyak diani! 🙂

  5. Apresiasi sih boleh, tapi bentuknya aja yg diubah. Orang yg pinter akademis umumnya lebih seneng kalo diapresiasi dengan cara diajak belajar bareng atau ditanya-tanyain sih menurutku. Asal nggak ditambahin “imbaaa..” kalo dia bisa jawab 😛

    Beda sih sama orang yg jago di bidang seni yg mungkin udah seneng banget diapresiasi dengan sorakan dan tepuk tangan.

  6. Halo Diani, mau ikut nimbrung diskusi ah…
    yang pertama terkait dengan momen bertanya. Step satu adalah asah kekritisan kita, coba lihat hal apa yg bisa kita pertanyakan, komentari, atau coba pahami. Step dua, ketika ada silent effect (kondisi ketika kelas hening disaat dosen menanyakan ada pertanyaan atau tidak), take action :D. Jangan takut pertanyaan kita cupu, jawaban kita ngaco, ato sbgnya. Yang penting kita jadi yang pertama. Dan banyak banged efek positif dari inisiatif bertanya (mulai dari ilmu yg tiba2 nempel, dosen yg inget kita terus ngasih nilai A, hingga pengaruh ke kepercayaan diri kita). So, malu bertanya sesat dijalan. Banyak bertanya, bodo amat muka gw tebel ini :p

    Terus terkait apresiasi. Mungkin klo yg saya tangkap yang tidak baik adalah apresiasi yang destruktif. Yang sifatnya nyindir, menghina, ngatain, ngecengin, dll. Itu adalah budaya yg ada di Indonesia dan sudah berapa kali kelas-kelas di ITB kena tegur oleh dosen2 (yg pernah merasakan kuliah di luar negeri) terkait budaya buruk kita tersebut. Cuma ada dua aturan yg perlu kita biasakan. 1. Hargai orang yang bertanya/berinisiatif (seaneh apapun itu pertanyaannya ato senorak apapun inisiatifnya). 2. kalo kita mendapatkan respon yg jelek dari lingkungan kita ketika kita melakukan suatu aksi, jadilah kodok yang tuli 😀

    -maap jadi panjang 😀

  7. halo Diani
    tulisan yang lumayan bagus, tapi izinkan gw membawa ke pola pikir yang berbeda

    1) Menurut gw, salah satu naluri dasar manusia adalah senang dipuji
    Benar? Pasti benar

    2) Tidak semua orang pintar dalam bereaksi. Saya salah satu orang yang seperti itu. Seringkali bingung mau bereaksi apa terhadap apa. Tapi intinya, ‘penyakit’ seperti ini sepertinya sering membuat orang menjadi seakan ‘benci dipuji’, karena terbiasa salah bereaksi.

    kesalahan reaksi ini terkadang dimanfaatkan orang lain untuk me-‘mock’ dia sebagai bahan lelucon, atau sejenisnya, yang menghasilkan keresahan dan ketidaksukaan di orang yang dipuji. Akhirnya, dia jadi menghindari pujian. Dan, jadilah terbentuk orang-orang dengan karakter yang Diani tulis di atas

    –Apresiasi sih boleh, tapi bentuknya aja yg diubah. Orang yg pinter akademis umumnya lebih seneng kalo diapresiasi dengan cara diajak belajar bareng atau ditanya-tanyain sih menurutku. Asal nggak ditambahin “imbaaa..” kalo dia bisa jawab :P–

    umumnya? Tau dari mana umumnya?
    Berdasar pada karakter saya yang cenderung lebih “ke dalam dulu baru keluar”, mungkin ada baiknya kalau orang-orang itu belajar untuk merespon dengan baik, sehingga orang-orang berhenti me-‘waaah’ dan ‘imbaaa’ dsb. Dan diharapkan dia akan lebih nyaman dengan dirinya

    3) Tau gak sih, ada orang-orang yang senang disorakin sebenarnya. Orang-orang yang biasanya tidak terlihat dan tidak biasa tampil biasanya memang terlihat gugup saat ia disorakin. Tapi, kembali ke salah satu naluri “senang dipuji” tadi, gw yakin sebenarnya mereka senang, hanya, perlu lebih untuk merespon dengan baik

    Terakhir

    –Tapi kalo nonton film Harry Potter pun, nggak pernah ada koor “waaah” dari Harry cs kalau Hermione berhasil menjawab pertanyaan yang sulit–

    Meski hanya fiksi, tau gak kalau awalnya Hermione di-mock juga sama teman-temannya?
    Tapi dari analisis asal2an gw, Hermione itu :
    – Orang yang pintar merespon (tidak menanggapi ‘waah’)
    – Tidak menyerah (tidak berhenti terus aktif meski dijelek2in ama Draco dsb, bahkan Ron pada awalnya)
    – Menerima pujian

    Well, karena itu dia tidak pernah punya masalah lagi di Harpot2 selanjutnya

    Sekian, sekedar berusaha membuka wawasan dengan memberi masukan sudut pandang lain
    And Diani, try to see from every point of view
    You have a very big tendency to judge from your own point of view (just like me – I think)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s