Mengerem Itu Seni

*Ditulis setelah sebuah perjalanan bermotor selama empat jam keliling Bandung.

Mengerem itu seni. Kenapa? Karena nggak ada nilai atau aturan eksak untuk mengerem. Yang penting adalah kita bisa mengerem sehingga berhenti sebelum menabrak. Mencegah terjadinya damage. Mau mobil, motor, atau kendaraan apapun, kita nggak akan bisa tahu, dari jarak seberapa kita harus mulai mengerem biar berhentinya nggak nabrak. Yaah, di fisika sih ada itungannya, tapi kalo harus jago fisika dulu baru dapet SIM, damai lah jalanan di manamana. Tapi toh kenyataannya nggak begitu. πŸ˜›

Masih menjawab pertanyaan, kenapa seni? Well, karena menarik. Akan sangat menarik melihat seseorang selalu mampu mengerem sehingga berhenti tepat sebelum menabrak. Tidak ada jarak yang terpakai sia-sia, efektif, dan tentunya aman sejahtera. πŸ˜€

Nggak cuma waktu naik kendaraan, mengerem dalam kehidupan juga adalah seni. Nggak ada yang tahu, bahkan kita sendiri kadang-kadang nggak mampu mengukur, Sejak kapan kita harus mengerem supaya nggak terjadi damage sama kehidupan kita.

Ada saatnya di mana kehidupan memaksa kita untuk bergerak dengan kecepatan yang tinggi. Pada saat inilah seni mengerem dibutuhkan, agar kita bisa menyesuaikan diri dan tetap hidup utuh, dan tentunya, semua waktu yang ada bisa digunakan dengan efektif.

Advertisements

One thought on “Mengerem Itu Seni

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s