SPARTA HMIF 2010

Setelah proses yang berjalan selama hampir 3 bulan, akhirnya rangkaian acara kaderisasi formal HMIF ini selesai juga. SPARTA HMIF 2010 itu kepanjangannya Simulasi dan Pelatihan Keorganisasian untuk Anggota HMIF 2010. Di HMIF, rangkaian acara ini adalah proses buat mengangkat anggota muda (semua mahasiswa Teknik Informatika dan Sistem dan Teknologi Informasi) menjadi anggota biasa HMIF. Iya itu akronim, tapi entahlah, secara budaya selalu ditulis seolah-olah singkatan. Hahaha.

Tiga bulan ini, saya mendapat pembelajaran yang luar biasa banyaknya dalam proses sebagai ketua panitia. Belajar manajemen manusia sih pada intinya. Koordinasi panitia, mengamati karakter peserta, koordinasi juga dengan pihak lain yang terlibat. Harus diakui, manajemen manusia itu sama sekali bukan hal yang gampang. Apalagi saya adalah tipe orang yang kelihatannya nggak peduli sama perasaan orang. Asal tabrak dulu aja sana-sini. Padahal nanti kalo udah salah terus menyesal, terus bingung gimana caranya minta maaf. Hahaha.

Manusia itu nggak bisa diperlakukan seperti mesin. Nggak bisa asal tabrak aja sana-sini. Harus pake pendekatan yang baik biar sama-sama enak. Untungnya, temen-temen panitia itu mengerti karakter saya memang begini. Jadi mereka bisa maklum kalau saya sering sradak-sruduk gitu aja. Berkali-kali jadi wakil sesuatu, ternyata nggak sebegitu membantunya dalam penyelesaian malah manajemen manusia ini. Sulitnya memang luar biasa. Buat saya, yang paling sulit adalah pada saat harus menegur orang karena kinerjanya nggak begitu bagus. Saya nggak bisa menegur orang baik-baik. Yang ada biasanya saya marahin orang sambil setengah ngambek. Well, it won’t solve any problem. Hahaha. Dari sini, saya bener-bener belajar gimana caranya negur orang yang baik. Meskipun saya belajarnya baru sampe tingkat beginner ke intermediate sih, sementara yang harus saya hadapi itu harus pake cara expert.

Masalah berat dalam kepanitiaan itu, ya koordinasi. Ada sekian banyak kepala yang mau berkerja, ada sekian banyak juga pekerjaan yang harus dikerjakan. Bagaimana membagi tugas dan menyatukannya kembali dalam suatu koordinasi itu bukan hal yang gampang. Dan saya akui, saya masih kurang banget di sini. Saya nggak bisa membagi pekerjaan ke dalam ukuran-ukuran kecil. Dan ini kadang-kadang bikin repot divisi-divisi di bawah saya. Arahan saja nggak cukup, kadang sebagai ketua, harus bisa membantu membagi masalah ke dalam ukuran-ukuran kecil sehingga divisi yang terlibat nggak kebingungan dan tinggal membagi teknis kerjanya. Rapat koordinasi itu penting lho. Supaya tau sudah sejauh apa kerjaan siapa. Supaya nggak ada yang kelupaan. Dan yang paling penting, menjaga supaya suhu panitia tetap sama. Oke, soal suhu, saya gagal. Padahal itu bagian dari tujuan utama saya sebagai ketua, menyamakan suhu. Ternyata memang nggak semudah itu. Setiap orang punya kebutuhan, pemikiran, dan prioritas berbeda. Menjaga suhu panitia sama itu sulit, bahkan di panitia inti dan kadiv sekalipun. Mungkin karena saya yang kurang terbuka dalam mengutarakan pemikiran saya mengenai flow acaranya.

Oh iya, dalam kasus kepanitiaan ini, saya nggak cuma mengkoordinasikan panitia, tapi juga berkoordinasi dengan Dewan Eksekutif HMIF dan Daemon. Daemon itu mahasiswa-mahasiswa tingkat akhir yang tugasnya menjaga nilai. Swasta istilah lainnya. Saya sangat amat bersyukur karena tahun ini, koordinasi dengan kedua belah pihak itu, yang konon kabarnya biasanya bermasalah, jadi sangat baik-baik saja. Saya sangat banyak terbantu sama kedua pihak itu malah. 😀

Di penghujung akhir rangkaian acara kemarin, saya dibuat panik oleh peserta. Tiba-tiba begitu banyak yang mau mengundurkan diri. Sampai hasil penilaian dibuat, ada 5 orang. Alasan mereka semua bagus, dan saya senang mendengarnya. Tapi namanya sebagai ketua, merasa ada yang salah sama hal itu. Mencoba mencari-cari salah di sistemnya, kemudian saya tersadar. Masalah utama yang terjadi tahun lalu, buat teman-teman saya, adalah mekanisme seleksi yang sedemikian kejamnya. Tahun ini, sebelum acara dimulai, saya sempat berpikir bagaimana membuat mekanisme seleksi yang bisa menyenangkan semua orang. Lalu saya terpikir, mungkin nggak ya, membuat acara kaderisasi yang sedemikian beratnya, sehingga orang-orang yang nggak niat terkena seleksi alam dan secara otomatis nggak melanjutkan ke jenjang selanjutnya. Lalu pemikiran ini terlupa begitu saja seiring berjalannya rangkaian acara. Dan ternyata, pemikiran itu sudah menjadi niat dan berakibat peserta jadi pada minta mengundurkan diri. Ya, panitia, DE, dan Daemon berhasil membuat peserta tahu bahwa tanggung jawab yang akan mereka emban itu memang berat. Dan saya lega. Masalah terbesarnya ternyata sudah terpecahkan.

Sekarang SPARTA HMIF 2010 sudah berakhir. 118 peserta sudah dilantik menjadi anggota biasa HMIF. Saatnya kembali ke kehidupan normal perkuliahan dan bekerja lagi buat himpunan. Terimakasih banyak ya semuanya, panitia, peserta, DE, Daemon, atas bantuannya yang luar biasa dalam membantu kelancaran acara ini. Makasih banyak buat panitia, yang sudah selalu mau direpotkan oleh kelakuan saya, yang sudah membuat saya bisa tetap makan 3 kali sehari dan terhibur di tengah segala keputusasaan. Makasih banyak buat peserta yang sudah memberi saya kesempatan untuk banyak belajar, untuk melihat masalah dari segala macam sisi, untuk mempertimbangkan baik-baik apa yang harus dilakukan dan dikatakan. Makasih banyak buat DE dan Daemon, untuk segala bimbingannya menyelesaikan masalah-masalah aneh yang timbul. Saya minta maaf sebesar-besarnya atas semua kesalahan yang sudah saya bikin. Semoga tidak ada dendam di antara kita semua. 🙂

Advertisements

3 thoughts on “SPARTA HMIF 2010

  1. terima kasih atas SPARTA nya kakak , maaf kalau selama SPARTA perkembangan kami kurang menyenangkan bagi panitia . Semoga di HMIF kami bisa lebih berkarya 🙂

  2. Oh jadi SPARTA tahun ini lebih berat dari tahun kemaren? Itukah yang membuat peserta mengundurkan diri? Menurutku sih gak harus ngambil tanggung jawab yang berat di himpunan jika memang tidak mampu. Ambil yang ringan aja dan dinikmati =)

    • Kalo menurutku, Red, kalo dari segi tugas dan day-day-nya sih enggak, tapi banyak cerita yang kita tanamkan tentang gimana nanti di himpunan, gitu kan. Jadi banyak yang merasa kalo di himpunan itu harus begini harus begitu, dan akhirnya merasa nggak akan sanggup sehingga itu lah yang terjadi. Hehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s