Teater EPIK Volume 5: Taraksa

Pengalaman pertama nonton teater beneran. Nggak menyesal memilih pertunjukan yang ini sebagai objek tontonan. Bagus! Saya mengetahui acara ini dari situs acaranya. Karena menarik, dan diajak pacar, saya memutuskan untuk menonton pertunjukan ini. Acaranya di teater tertutup Dago Tea House. Saya menonton pertunjukan tanggal 26 Februari 2013 jam 19.00. Pertunjukan kedua dari tiga kali pertunjukan.

image

Tiket Masuk Teater

image

Buku Acara

Teater ini bercerita tentang petualangan Taraksa ke langit. Dia melintasi berbagai lapisan langit dan bertemu berbagai makhluk. Cerita ini dibungkus dalam balutan gerak, visualisasi, dan musik. Porsi dialognya memang sedikit, lebih banyak monolog dari narator cerita ini.

Musiknya diaransemen sedemikian rupa sampai benar-benar menghadirkan emosi cerita ke dalam hati. Dari musik pelan mendayu-dayu, musik riang, sampai musik perangnya, semua minta diacungi jempol. Visualisasinya gila! Kostum pemeran semuanya melukiskan latar dengan bagus. Gambar yang ditembak ke langit-langit gedung serta permainan lampu yang digunakan, berhasil bikin saya takjub. Jangan tanya bagaimana para aktor dan aktris memerankan bagiannya. Saya cuma bisa terhanyut dalam ceritanya.

Intinya, pendapat saya, bungkus cerita ini super keren! Emosi dari ceritanya jadi benar-benar terasa. Musik yang mampu memberikan porsi cerita sendiri, aktor dan aktris yang mampu menghanyutkan penonton, dan visualisasi yang menambah warna pada cerita. Bahkan tidak jarang tercium aroma khas yang ikut membumbui cerita. Dari mata, telinga, bahkan hidung pun diusik dengan penggambaran ceritanya. Apalagi hati, serasa ditusuk, Jendral!

Panitia penyelenggara pertunjukan ini menjual tiket dalam 3 kelas, Ahimsa, Kaki Langit, dan Kerajaan Bulan. Ketiga kelas ini punya pengalaman menonton yang berbeda. Bedanya apa? Ah, tonton saja pertunjukannya, nggak seru kalau diceritakan. Saya sih senang dapat souvenir gratis. 😉

image

Kalkrau Illuminate - Cahaya yang Tak Pernah Selesai

Di teater ada istilah encore nggak sih? Waktu menonton, setelah semua artis dan panitia memberi salam, ada satu adegan penutup. Adegan ini yang, menurut saya, paling menusuk di hati. Sakit!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s