Perihal Masalah yang Diberi Solusi

Jadi ceritanya saya mendapat sebuah tugas kuliah untuk membuat makalah. Makalahnya ini bebas, asal isinya bukan sekedar studi literatur, tapi ada kontribusinya juga. Bisa berupa percobaan, pengujian, implementasi, apapun. Sebelum membuat makalah, setiap mahasiswa diharuskan membuat proposal, akan membuat makalah yang seperti apa.

Deadline proposalnya besok siang, sementara saya belum mengerjakan apapun. Malam ini kebetulan menganggur, jadi mulailah saya mengerjakan di proposal itu.

Karena malas melakukan pemrograman, saya mencari topik makalah yang kira-kira tidak membutuhkan pemrograman. Pilihan saya jatuh kepada salah satu topik. Eh, setelah ditelusuri lagi, topik itu kalau mau dikembangkan ya harus dengan pemrograman. Karena malas, saya mencari topik lain yang serupa, dan ketemu.

Selanjutnya, saya mulai mencari kakas untuk memudahkan pengerjaan makalahnya, ketemu. Teruslah saya membuat proposal, latar belakang, rumusan masalah, tujuan, semua terisi dengan lancar. Setelah semua selesai baru saya sadar sesuatu.

Aneh. Ya, aneh. Cara saya mengerjakan makalah ini, aneh. Setahu saya sih, orang yang membuat makalah ilmiah itu biasanya karena dia gelisah akan suatu masalah. Sudah gelisah, dia berusaha mencari solusi dari masalah itu. Setelah rancangan solusinya ada, baru lah dijalankan solusinya. Sementara yang saya lakukan justru sebaliknya, cari solusi dulu baru cari masalah yang berkaitan. Aneh.

Setelah berpikir, saya baru sadar, ternyata pola berpikir ini muncul dari kegiatan-kegiatan di kampus yang pernah saya ikuti. Di kampus, asal kita bisa mengemukakan masalah, menucetuskan solusi, dan menunjukkan bagaimana menjalankan solusi tersebut, solusi kita pasti diterima. Kemudian semua orang akan lupa, bahwa sebenarnya masalah yang dikemukakan di awal itu bukan masalah yang besar. Bukan masalah yang mendesak untuk diselesaikan. Yah, yang penting solusinya terlihat keren, selesai.

Kalau mau bicara tingkat urgensi masalah, saya pernah dengar sebuah teori. Jika kita kelompokkan masalah kita ke empat kategori, anggaplah ada empat kuadran, kiri atas itu penting mendesak sementara kanan bawah itu tidak penting tidak mendesak. Nah, masalah yang biasanya diselesaikan itu yang berada di area kanan bawah, karena memang solusinya mudah.

Ah, makin panjang dan meracau saja tulisan ini. Saya cuma resah, pendekatan “mencari solusi yang gampang” untuk menyelesaikan masalah ini membuat saya jadi resah. Soalnya, masalah yang penting dan mendesak itu memang biasanya solusinya sulit dijalankan. Kalau begitu, masalah tipe ini nggak akan pernah diberi solusi dong?

Atau ini hanya keresahan saya saja ya?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s