Bangun Lagi Dong Lupus: Bukan Review

Sore tadi saya menonton sebuah film yang judulnya menarik, Bangun Lagi Dong Lupus. Bukan, tulisan ini bukan akan menceritakan bagaimana alur cerita filmnya. Tulisan ini juga nggak akan menceritakan betapa oke nya para pemeran memerankan tokoh-tokoh dalam film ini. Saya juga nggak akan menuliskan kutipan-kutipan lucu dari film ini. Jadi, buat yang mencari review film ini, silakan cari ke tempat lain ya. 🙂

Saya hanya ingin menceritakan perasaan saya selama menonton film ini. Saya menonton film ini dengan sebuah ekspektasi sederhana: menonton Lupus. Saya nggak peduli dengan ceritanya. Saya hanya rindu dengan sosok Lupus yang sewaktu kecil dulu sering saya baca novelnya. Meski cuma novel boleh minjem sih, punya om saya.

Awal film, saya merasa cukup terhibur dengan pengenalan tokoh-tokohnya. Pas dan tidak dibuat-buat. Waktu itu sempat timbul satu pertanyaan di kepala saya, kalau begini klimaks ceritanya bagaimana ya? Dan ternyata akhirnya saya lupa. Saya terhanyut dengan pengemasan cerita yang mengalir dengan tepat. Seperti aliran sungai yang mengarah ke laut. Tidak dibuat-buat, alami, tapi tetap menyegarkan.

Menjelang akhir film, sebuah pertanyaan muncul di kepala saya, bersama dengan sebuah decak kekaguman. Siapa orang di balik film ini sih? Siapa yang memiliki sebuah ide brilian untuk “menghidupkan” kembali Lupus? Saya kagum, di tengah dunia yang sedang penuh dengan hidden agenda, yang mostly adalah uang, ada sekumpulan orang dengan idealismenya membuat film ini.

Saya selalu kagum pada tokoh Lupus dan kawan-kawannya. Setiap membaca bukunya, yang saya rasakan ya itu: mengalir, menghibur, namun tetap menyegarkan dan sarat makna. Di film Bangun Lagi Dong Lupus ini, saya menemukan hal itu lagi. Tidak seperti kebanyakan novel yang diangkat ke film belakangan ini. Mengejar popularitas, mengejar rating, mengejar uang.

Siapa bilang Lupus terkenal? Tidak banyak anak jaman sekarang yang tahu siapa itu Lupus. Namun kemasan dalam filmnya penuh dengan idealisme untuk membawakan siapa itu tokoh Lupus. Tidak dengan iklan berlebih, tidak dengan iming-iming pemandangan menarik, atau semacamnya. Saya luar biasa kagum. Jika film ini ditontonkan kepada anak-anak sekolah jaman sekarang, mereka kemungkinan besar tidak tertarik. Film ini sama sekali tidak menjual. Bahkan aktor dan aktrisnya pun bukan pemain FTV terkenal. Namun hal itu yang berhasil membuat saya kagum.

Setelah selesai nonton film ini, baru saya tahu. Film ini diproduseri oleh Eko Patrio, yang juga ikut berperan dalam film. Menariknya, Hilman, si penulis novel Lupus, juga terlibat dalam pembuatan film ini. Terlibat langsungnya si penulis novel ini yang membuat saya berpikir, pantaslah film ini benar-benar terasa sarat nilai, makna, dan idealisme.

Belakangan ini, hati dan pikiran saya sedang diliputi sebuah awan gelap. Twit twit yang saya tulis kebanyakan berwarna gelap. Saya sedang kehilangan semangat untuk mengerjakan apapun. Entah kenapa, selesai menonton film ini, saat membaca nama Eko Patrio sebagai produser, seperti ada korek api yang dinyalakan di kepala saya. Saya akhirnya menemukan semangat saya kembali. Yah, semoga saja saya berhasil menemukan sumbu atau benda apapun yang tepat untuk dibakar. Korek ini perlu dijaga bahan bakarnya, tidak mungkin bisa menyala lama-lama.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s