Ketidakmajuan Teknologi

Teknologi di Indonesia nggak maju-maju.

Siapa yang tidak setuju dengan pendapat itu? Yang saya tahu, lebih banyak orang yang setuju. Sebenarnya ini hal yang sangat aneh. Bukan aneh yang biasa saja, tapi aneh yang luar biasa. Mengapa? Karena di Indonesia sendiri ada dua Institut Teknologi yang punya nama besar. Selain itu, ada beberapa institusi pendidikan lain di bidang teknologi. Sangat aneh bahwa ternyata keluaran dari semua tempat ini belum berhasil membangun Indonesia dari bidang teknologi.

Keanehan ini semakin terasa saat saya memasuki tingkat 4 di Institut Teknologi Bandung. Ada sebuah tren aneh yang ternyata terjadi dan terus terjadi di dalam kampus saya ini. Silakan dikritisi jika memang kurang tepat. Ini adalah pandangan pribadi saya yang sudah menjalani kegiatan akademik maupun non akademik di ITB.

Tren aneh yang saya lihat ini terjadi pada lulusan dari ITB, secara umum. Lulusan ITB sendiri terbagi menjadi 3:

  1. Lulusan yang sangat pintar, yang nilainya luar biasa tinggi, akan meneruskan sekolah ke luar negeri. Saat kembali ke Indonesia dengan ilmu yang sudah luar biasa tingginya, malah tidak bisa diterima. Mau mengembangkan teknologi tapi tidak didukung pemerintah. Lucunya, cerita tentang hal ini tersebar terus, entah siapa yang memulai, tapi akibatnya, sampai sekarang belum ada yang mampu mematahkan cerita ini.
  2. Lulusan yang pintar, namun berorientasi hanya kepada dirinya sendiri, akan bekerja di perusahaan multinasional atau sebangsanya. Biasanya karena sudah mendengar cerita yang sama dengan nomor 1. Betapa negara ini tidak bisa diubah bagaimanapun caranya.
  3. Lulusan yang cenderung biasa saja nilainya, dan bertekad untuk membangun Indonesia. Namun mungkin karena nilai yang biasa saja itu maupun hal lain, dia tidak membangun Indonesia dari bidang yang paling dia tahu, teknologi.

Nah, untungnya, masih ada kaum hipster yang tidak terjebak dengan tren di atas. Mereka-mereka itu lah yang berusaha membangun Indonesia, dengan cara yang mereka tahu, teknologi. Membangun perusahaan di bidang teknologi dan sebagainya.

Tren ini, menurut saya, bisa terjadi karena, entah mengapa, bahkan sampai kalangan dosen pun memberikan sebuah insepsi bahwa kita harus membangun Indonesia tidak hanya dari segi teknologinya saja. Bahwa kami, sebagai mahasiswa-mahasiswa terbaik di Indonesia, harus bisa menguasai segala sektor di Indonesia. Well, “tidak hanya” berarti “selesaikan dulu yang itu baru perluas yang lain” bukan? Namun entah mengapa, yang terjadi justru “apapun selain bidang itu”. Kemudian tren di atas lah yang terjadi. Terus berlanjut. Sampai entah kapan.

Hal lain yang aneh adalah bahwa engineer, yang seharusnya memang hanya bermain dengan hal-hal yang teknis, kemudian malah disuruh memahami hal-hal yang konseptual. Menurut saya sih ini tidak nyambung. Atau mungkin saya yang gagal memaknai 3 tahun lebih keberadaan saya di kampus ini, entahlah.

Mungkin paradigma bahwa “orang pinter itu harus kuliah di ITB atau apapun yang berkaitan dengan engineering” harus diubah. Mungkin paradigma bahwa “engineer harus bisa menyelesaikan masalah bangsa bahkan yang tidak berkaitan dengan teknologi sekalipun” harus diubah.

Ah entahlah, makin lama tulisan ini malah terbaca seperti racauan. Saya sebenarnya cuma kecewa satu hal kok. Bahwa lulusan dari ITB setiap tahun segitu banyaknya tapi perkembangan teknologi di Indonesia masih tetap seperti jalan di tempat. Saya sendiri pun, keluar dari ITB sepertinya tidak akan mampu untuk mengembangkan teknologi. Saya lebih merasa hidup di bidang yang lain seperti pendidikan, jurnalistik, dan semacamnya.

*angkat bahu*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s